Kisah penuh perjuangan dialami oleh Hasan Karmana (60), seorang warga kawasan Bansir Laut, Kota Pontianak, yang harus kehilangan tempat tinggal setelah rumahnya di tepian Sungai Kapuas roboh secara tiba-tiba pada 11 Agustus 2026 lalu.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, insiden nahas tersebut terjadi saat Hasan sedang berada di dalam rumah bersama istrinya, Aisyah Putri (24), serta anak mereka yang berusia enam tahun, Raisya Haja.
Bangunan semi permanen yang mereka huni ambruk seketika hingga membuat Hasan tertimpa reruntuhan dinding. Di tengah situasi yang panik dan mencekam, ia mengerahkan seluruh tenaga untuk menyelamatkan buah hatinya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Waktu itu kami di dalam rumah, tiga beranak. Saya tertimpa dari bagian dinding, tapi masih sempat menyelamatkan anak saya," ungkap Hasan mengenang detik-detik menegangkan tersebut.
Peristiwa itu tidak hanya meratakan tempat tinggal mereka, tetapi juga membuat sebagian harta benda tercebur dan rusak tersapu air. Akibatnya, Hasan bersama istri dan anaknya terpaksa bertahan hidup di atas motor air miliknya.
Kendaraan air yang biasanya digunakan untuk mencari nafkah dengan mengantar orang memancing itu seketika beralih fungsi menjadi tempat berteduh darurat sekaligus tempat beristirahat sehari-hari.
"Biasanya bawa orang mancing. Kadang ke Tayan," tutur Hasan mengenai perahu motor yang menjadi saksi bisu perjuangan hidup keluarganya selama menjadi tunawisma.
Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Sosial bersama BPBD dan perangkat daerah terkait kemudian bergerak cepat memberikan bantuan darurat berupa paket sandang serta makanan siap saji untuk kebutuhan selama tujuh hari.
Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak, M Akif, menjelaskan bahwa pihak pemerintah sebelumnya juga sempat menawarkan fasilitas rumah susun kepada Hasan, namun tawaran tersebut belum diambil kala itu.
"Kita juga sudah menawarkan kepada Pak Hasan Karmana untuk menempati rusun, tetapi beliau belum bersedia waktu itu," jelas Akif.
Titik terang akhirnya muncul setelah seorang warga dermawan bernama Mustafa merelakan rumah miliknya di kawasan Gang Kuantan untuk ditempati oleh keluarga Hasan secara cuma-cuma.
"Alhamdulillah, Pak Mustafa menawarkan rumahnya dan Pak Hasan juga sudah sudah bersedia untuk tinggal di sana," tambah Akif dengan nada bersyukur.
Dengan kepindahan ke tempat baru tersebut, Hasan dapat kembali melanjutkan rutinitasnya sebagai pencari nafkah tanpa khawatir kendala mobilitas perahu motornya.
"Motor airnya juga bisa dibawa ke sana, sehingga tidak mengganggu aktivitas Pak Hasan untuk membawa orang memancing," ujar Akif.
Sementara itu, terkait rencana pembangunan kembali rumah Hasan yang roboh di lokasi semula, Pemkot Pontianak menemui jalan buntu karena status lahan berdiri di atas tanah milik orang lain yang pemiliknya telah meninggal dunia.
"Kendalanya, rumah Pak Hasan yang roboh itu berada di tanah milik orang lain. Pemiliknya juga sudah meninggal, sehingga tidak bisa dibangun kembali begitu saja," pungkas Akif menutup keterangan.