Target ambisius pemerintah untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas total 100 gigawatt sebelum tahun 2029 mendapat sorotan tajam dari kalangan pengamat energi.
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh media Suara.com, Institute for Essential Services Reform menilai program besar tersebut memerlukan kerja ekstra keras karena harus mengejar pembangunan puluhan gigawatt dalam waktu kurang dari empat tahun.
Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa dalam keterangannya menyampaikan bahwa keberhasilan program ini tidak boleh hanya diukur dari ramainya seremoni peletakan batu pertama atau groundbreaking.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurutnya, tantangan paling krusial saat ini adalah bagaimana mengubah komitmen politik menjadi mesin implementasi nyata yang mampu mendirikan PLTS skala masif setiap tahunnya, sebagaimana diwartakan oleh Suara.com.
Lebih lanjut ditegaskan bahwa "Tantangan terbesar sekarang adalah mengubah komitmen politik Presiden menjadi mesin implementasi yang mampu membangun puluhan gigawatt PLTS setiap tahun," ujar Fabby dalam keterangan tertulisnya.
Di sisi lain, IESR menyarankan agar pemerintah segera mempercepat penyusunan regulasi yang kuat, menyiapkan pipeline proyek tahunan yang jelas, hingga memastikan kesiapan jaringan transmisi agar target transisi energi bersih ini dapat tercapai tepat waktu.