Sebagaimana diwartakan oleh media internasional, pemerintah Nepal memperkirakan kebutuhan dana untuk rekonstruksi wilayah yang hancur akibat banjir bandang berkisar antara US$ 4 miliar hingga US$ 5 miliar. Berdasarkan laporan Menteri Keuangan Swarnim Waglé, nominal fantastis tersebut setara dengan hampir 10 persen dari total Produk Domestik Bruto negara di kawasan Himalaya tersebut.
Bencana alam dahsyat ini dipicu oleh keruntuhan gletser dan longsor besar di pegunungan Himalaya yang menyapu wilayah sekitar. Laporan resmi mencatat jumlah korban tewas akibat musibah tersebut mendekati angka 700 jiwa, sementara ribuan orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Menteri Keuangan Swarnim Waglé menjelaskan bahwa kalkulasi anggaran tersebut masih bersifat sementara karena proses pendataan kerusakan infrastruktur secara menyeluruh masih terus berlangsung di lapangan. Kendati demikian, angka tersebut diyakini masih berada di bawah biaya pemulihan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang melanda negara itu pada tahun 2015 silam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDampak kerusakan akibat banjir kali ini juga menghantam sektor vital perekonomian Nepal, termasuk merusak sejumlah pembangkit listrik tenaga air yang menyumbang porsi besar bagi pasokan energi nasional. Selain itu, arus deras air bah turut meluluhlantakkan puluhan jembatan serta menyapu bersih permukiman warga di wilayah perbatasan.
Di tengah situasi darurat yang melanda, pemerintah setempat terpaksa menghentikan sementara operasi pencarian korban akibat memburuknya kondisi cuaca. Meski demikian, pihak berwenang membuka diri terhadap bantuan teknis internasional yang spesifik, seperti dukungan ahli untuk evakuasi korban di dalam terowongan serta penanganan identifikasi jenazah.