Sebagaimana diwartakan oleh RRI.co.id, meluasnya kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Kalimantan Selatan kini mulai merambah dan mengganggu aktivitas belajar mengajar di Kota Banjarmasin. Sejumlah institusi pendidikan terpaksa mengambil langkah penyesuaian operasional guna menekan risiko paparan asap berbahaya bagi kesehatan para pelajar.
Salah satu instansi pendidikan yang sigap menerapkan kebijakan penyesuaian tersebut adalah SMKN 4 Banjarmasin. Pihak sekolah mengambil keputusan taktis dengan mengubah jadwal jam masuk belajar serta memaksimalkan seluruh kegiatan akademis di dalam ruangan kelas demi meminimalisasi aktivitas siswa di ruang terbuka.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMKN 4 Banjarmasin, ST. Fatmawati, menyatakan bahwa kebijakan darurat ini mulai diberlakukan menyusul turunnya surat edaran resmi dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan. Penyesuaian krusial ini menggeser jam kedatangan siswa menjadi pukul 08.15 WITA.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip keterangan resmi dari ST. Fatmawati, "Di SMK 4 sendiri baru hari ini, per hari ini ada edaran untuk di sekolah bahwa kita akan melaksanakan jam masuk sekolah itu di jam 08.15 WITA. Penyesuaian dilakukan karena SMKN 4 Banjarmasin berada di bawah naungan Pemprov Kalsel." Kebijakan tersebut diambil demi melindungi kesehatan warga sekolah secara menyeluruh.
Selain memundurkan jam masuk, pihak sekolah juga memberlakukan protokol kesehatan ketat bagi para siswa selama berada di area kampus. Seluruh peserta didik diwajibkan mengenakan masker, membawa tumbler atau botol minum sendiri, serta dilarang melakukan kegiatan fisik di luar ruangan.
Ia menambahkan, "Penyesuaian ini memberikan waktu persiapan lebih panjang bagi siswa sebelum berangkat ke sekolah, guna mengurangi paparan kabut asap selama di perjalanan. Kita juga mengarahkan untuk kegiatan peserta didik agar berlangsung di dalam kelas." Langkah antisipatif ini diharapkan mampu meminimalisasi dampak buruk polusi udara terhadap sistem pernapasan anak didik.
Pihak manajemen sekolah sangat berharap kondisi cuaca segera membaik dan kabut asap akibat karhutla bisa lekas mereda agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal seperti sedia kala. Dalam situasi darurat ini, keselamatan serta kesehatan fisik peserta didik tetap menjadi prioritas utama penyelenggaraan pendidikan.