Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Kegagalan Strategis AS di Iran, Saat...
INTERNASIONAL

Kegagalan Strategis AS di Iran, Saat Keunggulan Taktik Tak Cukup

By Nusman Rawayandi Hagimutar 2 min read 29 Agustus 2026
Amerika Serikat dinilai gagal secara strategis dalam konflik militer melawan Iran di Selat Hormuz

Amerika Serikat dinilai gagal secara strategis dalam konflik militer melawan Iran di Selat Hormuz

Amerika Serikat menghadapi kegagalan strategis yang mendasar dalam konflik di Iran meskipun memiliki keunggulan taktik dan teknologi militer yang sangat mumpuni. Sejumlah analis kebijakan keamanan menyoroti berbagai kekurangan logistik, mulai dari rantai pasok minyak hingga minimnya jumlah pencegat, namun hal tersebut dinilai bukan akar utama dari kegagalan operasi militer di Selat Hormuz.

Militer Amerika Serikat tetap menunjukkan kapabilitas teknik luar biasa dengan memproyeksikan kekuatan lebih dari 7.000 mil dari pantai negeri Paman Sam dan menguasai langit Iran. Kerugian di pihak AS tercatat setidaknya 18 tentara tewas dan lebih dari 600 orang mengalami luka-luka, sementara korban di pihak Iran diperkirakan mencapai ribuan jiwa meski tanpa data resmi yang pasti.

Penyebab utama kegagalan tersebut bersumber dari kebijakan Gedung Putih di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang membebankan tiga tugas mustahil sekaligus kepada militer tanpa operasi darat. Target pertama adalah ambisi melakukan pergantian rezim semata-mata melalui kampanye pengeboman udara, sebuah metode yang terbukti gagal dalam sejarah perang modern seperti di era Perang Dunia II dan Perang Vietnam.

Tugas kedua yang dibebankan adalah menetralisir kapasitas rudal balistik dan drone Iran secara keseluruhan dari udara tanpa pengerahan pasukan darat yang memadai. Sejarah mencatat upaya serupa untuk menghentikan peluncur bergerak seperti roket V-2 di masa lalu hingga serangan udara terhadap peluncur Scud di Irak tidak pernah membuahkan hasil seratus persen.

Kegagalan Pertahanan Udara dan Kepemimpinan Pentagon

Amerika Serikat juga menghadapi jalan buntu pada tugas ketiga, yakni mempertahankan sistem pertahanan udara yang sempurna di kawasan Teluk guna melindungi infrastruktur negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk GCC. Lonjakan biaya produksi drone dan rudal yang jauh lebih murah dibanding pencegatnya membuat kapasitas pertahanan wilayah tersebut pada akhirnya mengalami kejenuhan.

Situasi semakin diperburuk oleh kepemimpinan di tingkat tertinggi pertahanan di mana Presiden Donald Trump menunjuk Pete Hegseth sebagai Menteri Pertahanan. Penunjukan figur loyal tanpa pengalaman memadai tersebut berujung pada pembersihan jajaran perwira senior militer yang berpotensi memberikan pandangan objektif dan kontrarian.

Kegagalan dalam kampanye militer di kawasan Teluk ini dinilai bukan lahir dari kekurangan di tubuh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, melainkan dari kesalahan kalkulasi strategis di Gedung Putih. Tuntutan politik untuk menyelesaikan misi mustahil tanpa memperhitungkan batasan realitas militer berisiko meninggalkan Iran dengan kontrol yang jauh lebih besar atas Selat Hormuz.

Topics
Koresponden Internasional

Nusman Rawayandi Hagimutar adalah koresponden yang meliput isu-isu internasional dan geopolitik. Dengan pengalaman meliput berbagai peristiwa global, ia menyajikan berita dunia dengan perspektif yang mendalam dan relevan bagi pembaca Indonesia.