Dampak buruk perubahan iklim kini tidak hanya mengancam lingkungan melalui gelombang panas dan cuaca ekstrem, tetapi juga mulai merusak tubuh manusia secara langsung. Berdasarkan laporan media internasional, peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer bumi terbukti memicu perubahan kimiawi pada darah manusia dengan efek samping yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Mengutip laporan majalah Time, kadar CO2 di udara terus melonjak drastis dari konsistensi masa lalu di angka 280 parts per million hingga menembus 425 ppm saat ini akibat Revolusi Industri. Setiap kali manusia bernapas, udara yang dihirup kini membawa lebih banyak molekul karbon dioksida daripada batas kemampuan adaptasi tubuh di masa lampau.
Untuk memahami dampak jangka panjang fenomena ini, ilmuwan geosains lingkungan Phil Bierwirth bersama ilmuwan kesehatan Alexander Larcombe menganalisis survei kesehatan nasional selama 21 tahun terhadap ribuan sampel darah. Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal Air Quality, Atmosphere and Health tersebut, kadar serum bikarbonat dalam darah tercatat mengalami lonjakan hingga 7 persen seiring meningkatnya emisi gas rumah kaca.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAlexander Larcombe menjelaskan bahwa bikarbonat bertindak sebagai penyerap kejut kimia utama di dalam tubuh untuk mencegah darah menjadi terlalu asam akibat paparan gas berlebih. "Bikarbonat adalah peredam kejut kimia utama tubuh untuk menjaga agar darah tidak menjadi terlalu asam, dan peningkatan kadarnya merupakan indikator tubuh dalam mengompensasi lebih banyak CO2," ujar Larcombe melalui surat elektroniknya.
Kendati demikian, mekanisme pertahanan alami tubuh ini memiliki keterbatasan nyata ketika menghadapi paparan gas beracun dalam jangka panjang. Sebagaimana diwartakan, lonjakan kadar karbon dioksida yang memicu penurunan kalsium serta fosfor di dalam darah berisiko menimbulkan gejala klinis seperti kram otot, kelelahan kronis, hingga gangguan irama jantung.
Para peneliti menegaskan bahwa batas toleransi biologis manusia perlahan mulai terlampaui jika emisi global tidak segera ditekan secara masif. Mengutip pernyataan Phil Bierwirth, kapasitas adaptasi biologis manusia memiliki batas maksimal, sehingga menghentikan laju polusi udara menjadi satu-satunya jalan mutlak demi menyelamatkan masa depan generasi mendatang.