Presiden Donald Trump secara terbuka meminta para pemilih untuk menganggap namanya berada di surat suara pada pemilihan paruh waktu atau midterms mendatang. Permintaan tersebut disampaikan dalam sebuah cuplikan wawancara dengan Fox News yang dipandu oleh Trey Gowdy dan disiarkan melalui program Sean Hannity pada hari Rabu.
Dalam tayangan tersebut, Trump menilai dinamika politik menunjukkan bahwa pendukung Partai Republik cenderung lebih masif datang ke tempat pemungutan suara ketika dirinya ikut bertarung. Ia berharap para pendukungnya tetap antusias menggunakan hak pilih meski namanya tidak tercantum secara langsung pada pemilihan tersebut.
"Ada teori bahwa ketika Trump berada di surat suara, mereka menang dan ketika saya tidak ada di surat suara, orang-orang tidak pergi memilih," ujar Trump dalam cuplikan program tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeIa lantas menyerukan kepada seluruh masyarakat agar tetap datang ke tempat pemungutan suara dengan membayangkan figur sang presiden ikut serta dalam kontestasi politik tersebut. Seruan itu dilontarkan di tengah upaya Partai Republik mempertahankan posisi mereka dari ancaman kubu Demokrat.
Ancaman Pemakzulan dan Risiko Strategi Trump
Meski demikian, langkah tersebut dinilai mengandung risiko besar yang dapat menjadi bumerang bagi sang presiden. Kebijakan terkait konflik berkepanjangan dengan Iran, sengketa tarif dagang dengan Kanada, serta isu kenaikan harga barang dilaporkan turut menggerus tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinannya.
Partai Demokrat sendiri tengah berupaya keras merebut kembali kendali di Dewan Perwakilan Rakyat maupun Senat Amerika Serikat. Di sisi lain, Trump memperingatkan para pendukungnya bahwa negara ini akan menghadapi situasi sulit apabila Partai Republik gagal meraih kemenangan dalam pemilu kali ini.
Strategi serupa sebelumnya juga sempat disuarakan oleh Donald Trump saat menghadiri acara kampanye akbar di Myrtle Beach, South Carolina. Di hadapan para pendukung konservatifnya, ia bahkan melontarkan peringatan keras mengenai potensi ancaman pemakzulan yang mengintainya jika partainya kalah.
"Saya akan dimakzulkan, mereka akan memakzulkan saya," ucap Trump di hadapan massa pendukungnya dalam kampanye tersebut.
Berbagai isu domestik dan kebijakan kontroversial membuat langkah konsolidasi pemilih ini menjadi pertaruhan politik yang cukup berat. Penurunan popularitas serta gelombang perlawanan dari kandidat progresif Partai Demokrat menambah tantangan tersendiri bagi kubu pendukung pemerintah.
Meskipun menghadapi tekanan politik yang cukup tinggi, Trump tetap optimistis bahwa partisipasi pemilih yang tinggi akan menjadi kunci kemenangan bagi partainya. Ia mendesak para pendukung setia untuk tidak golput demi mengamankan jalannya pemerintahan ke depan.