Sukardjo, yang secara luas dikenal dengan nama panggung Karjo AC-DC, adalah seorang pelawak, seniman panggung, dan aktor berkebangsaan Indonesia. Lahir di Kecamatan Pacet, Mojokerto, pada 10 Oktober 1935, beliau mengukir nama besar di dunia hiburan tanah air melalui keterlibatannya dalam kelompok lawak legendaris Srimulat. Namanya melekat kuat di ingatan publik sebagai salah satu ikon komedi tradisional yang berhasil menembus panggung modern.
Kontribusi utamanya dalam dunia seni lawak ditandai oleh kemampuannya mempopulerkan identitas panggung lintas gender yang unik tanpa meninggalkan kesan maskulin aslinya. Julukan AC-DC disematkan karena fleksibilitasnya dalam membawakan berbagai karakter, mulai dari peran pembantu wanita hingga tokoh-tokoh komikal yang mencairkan suasana. Penampilan panggungnya dikenal efektif dalam memikat perhatian penonton dari berbagai kalangan.
Selain berkarier di panggung teater tradisional dan modern, beliau juga sukses memperluas jangkauan seninya ke industri perfilman komersial nasional. Sepanjang kariernya di dunia akting, beliau telah membintangi belasan judul film layar lebar yang populer pada masanya. Transisi dari panggung rakyat menuju layar lebar membuktikan kapasitas adaptasinya yang tinggi dalam industri hiburan Indonesia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeArtikel ini akan menguraikan secara sistematis mengenai latar belakang kehidupan awal, perintisan kesenian tradisional, hingga pencapaian puncaknya di Srimulat dan dunia perfilman. Perjalanan panjang tersebut ditutup dengan dedikasinya hingga akhir hayat di kampung halamannya di Mojokerto pada tahun 1998.
Latar Belakang dan Perintisan Karier Kesenian
Sukardjo dilahirkan di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada tanggal 10 Oktober 1935. Masa kecil dan mudanya di daerah Jawa Timur membentuk kedekatannya yang mendalam dengan berbagai bentuk kesenian tradisional rakyat. Lingkungan kultural tersebut menjadi wadah awal baginya dalam mengasah bakat seni pertunjukan yang dimilikinya.
Sebelum memasuki dunia hiburan modern, beliau aktif merintis karier melalui berbagai pesenian tradisional nusantara yang populer pada masanya. Pengalaman panggung awalnya ditempa melalui partisipasi dalam kesenian ketoprak, wayang orang, dan ludruk di daerah. Keterlibatan di kesenian tradisional ini membangun fondasi mental dan penguasaan teknik improvisasi panggung yang kuat.
Proses kreatif selama bertahun-tahun di panggung tradisional mengasah kepekaannya terhadap humor situasi dan interaksi langsung dengan penonton. Pengalaman dasar tersebut menjadi bekal penting ketika beliau memutuskan untuk hijrah ke ranah hiburan komedi yang lebih luas. Kemampuan adaptasi ini memudahkan transisinya dalam menghadapi dinamika industri hiburan perkotaan.
Tonggak penting dalam perjalanan kariernya tercapai pada tahun 1970 ketika beliau memutuskan bergabung dengan kelompok lawak terkemuka, Srimulat. Kehadirannya di Srimulat menandai babak baru perpindahan dari panggung kesenian lokal menuju panggung komedi modern berjejaring nasional. Bergabungnya beliau memperkuat jajaran penampil komikal di kelompok tersebut.
Karier Puncak di Srimulat dan Perfilman Nasional
Selama bergabung dengan Srimulat sejak tahun 1970, Karjo AC-DC diandalkan sebagai penampil kunci yang mampu mencairkan suasana ketika penonton mulai pasif. Karakter panggung lintas gender yang dibawakannya dengan mengenakan kebaya namun tetap mempertahankan gaya maskulin menjadi ciri khas tersendiri. Variasi peran yang dimainkannya, mulai dari pembantu wanita hingga anak muda lugu, memperkaya ragam komedi kelompok tersebut.
Setelah berkiprah bersama Srimulat, beliau sempat keluar pada rentang tahun 1975 hingga 1981 untuk berkarier secara mandiri di Jakarta. Di ibu kota, beliau sempat mendirikan grup lawak Triajaya dan Palapa serta memperluas eksistensinya ke medium layar lebar. Debut filmnya dimulai lewat judul "Mayat Cemburu" pada tahun 1973, yang kemudian disusul oleh keterlibatan dalam sekurangnya 19 judul film komedi populer.
Puncak pencapaian di dunia akting dicapainya tatkala ia memegang peran utama sebagai Tante Sun dalam film terlaris "Tante Sundari" pada tahun 1977. Selain itu, beliau juga turut membintangi film-film box office era tersebut seperti "Inem Pelayan Seksi" pada tahun 1976 dan "Manusia 6.000.000 Dollar" pada tahun 1981. Kiprah ini membuktikan suksesnya transisi dari pelawak panggung tradisional menjadi bintang film komersial nasional.
Menjelang akhir hayatnya, beliau kembali ke kampung halaman dan menghembuskan napas terakhir pada tanggal 1 Maret 1998 di usia 62 tahun di Pacet, Mojokerto. Warisan artistik serta rekam jejak penampilannya tetap dikenang dalam sejarah perkembangan dunia lawak dan perfilman komedi Indonesia.