Sebagaimana diwartakan dalam laporan media, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji aspek keselamatan pelayaran terkait pengangkutan kendaraan listrik menggunakan kapal penyeberangan atau feri. Langkah strategis ini diambil menyusul tren peningkatan penggunaan kendaraan berbasis baterai yang membawa tantangan baru dalam hal mitigasi risiko kebakaran.
Menurut penjelasan Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) BRIN, Aam Muharam, karakteristik kebakaran kendaraan listrik sangat berbeda dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar fosil. Baterai berenergi tinggi rentan mengalami fenomena thermal runaway yang dapat memicu panas ekstrem, pelepasan asap pekat, serta potensi menyala kembali meskipun api utamanya telah berhasil dipadamkan.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, risiko tersebut dinilai semakin kompleks ketika kendaraan listrik diangkut menggunakan kapal feri karena terbatasnya ruang gerak dan akses penanganan darurat di dek kapal. "Dalam kondisi darurat, keselamatan penumpang dan awak kapal harus menjadi prioritas," ujar Aam melalui keterangan tertulis pada Senin, 24 Agustus 2026.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeUntuk menjawab tantangan tersebut, BRIN menggandeng sejumlah institusi penting seperti Badan Klasifikasi Indonesia (BKI), Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), PT Digital Inovasi Risiko, serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) guna melakukan riset komprehensif terkait respons darurat kebakaran baterai di laut.
Mengutip keterangan Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, keberhasilan transisi elektrifikasi transportasi tidak hanya ditentukan oleh masifnya adopsi kendaraan, melainkan kesiapan sistem pengamanan secara menyeluruh. "Tantangan ini semakin penting ketika kendaraan listrik digunakan dalam transportasi penyeberangan," ungkap Cuk sembari menekankan peran vital kapal feri sebagai penghubung antarpulau.