Krisis Selat Hormuz memaksa negara-negara di Asia untuk merombak total strategi energi minyak dan gas setelah jalur perdagangan vital tersebut terancam akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelum perang terjadi, sekitar seperlima dari perdagangan minyak dunia melewati perairan sempit sepanjang 20 mil yang terletak di antara Iran dan Oman tersebut dengan lebih dari 80 persen muatannya dikirimkan ke China, India, Jepang, serta Korea Selatan.
"Konflik ini telah menunjukkan betapa mudah dan murahnya mengancam infrastruktur energi yang sangat mahal, di mana drone yang relatif murah mampu menempatkan kilang, pipa, pelabuhan, serta fasilitas bernilai miliaran dolar dalam risiko," ujar kepala riset energi di MST Financial Saul Kavonic.
Ancaman pemutusan pasokan tersebut mendorong berbagai negara di kawasan Asia memberlakukan larangan ekspor, memangkas bea impor, serta mulai menjatah bahan bakar demi menjaga ketersediaan suplai domestik masing-masing negara dalam enam bulan terakhir.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun skenario terburuk seperti lonjakan harga ekstrem, antrean panjang di pom bensin, hingga pemadaman listrik belum sepenuhnya terjadi berkat peningkatan produksi serta cadangan stok yang besar, terbukanya celah penutupan jalur ini menjadi pukulan telak bagi industri energi global.
Diversifikasi Pasokan dan Pergeseran Rantai Pasok Energi Asia
Negara-negara pengimpor energi kini mulai melakukan diversifikasi untuk keluar dari ketergantungan terhadap kawasan Timur Tengah demi menghindari ancaman krisis yang lebih parah di masa depan. Jepang, yang mengimpor 100 persen kebutuhan energinya dan sebelumnya menggantungkan 90 persen pasokan minyak mentahnya dari Timur Tengah, mulai mengalihkan investasi energinya ke wilayah Australia dan penyedia lain yang lebih aman.
"Jepang mendapati dirinya jauh lebih rentan dari perkiraan sebelumnya, terutama dalam hal LNG karena jika pasokan LNG tidak tiba maka lampu akan padam dan negara tersebut lumpuh," ungkap Saul Kavonic.
Di sisi lain, para produsen minyak dan gas juga bergegas mengalihkan rute pasokan dengan menggelontorkan dana miliaran dolar untuk membangun jalur pipa darat serta pelabuhan di sisi barat Arab Saudi dan Teluk Oman demi menghindari Selat Hormuz sepenuhnya.
Langkah transformasi dari rantai pasok yang semula mengandalkan sistem tepat waktu menuju sistem siaga ini menandai perubahan paradigma terbesar dalam industri energi global selama setengah abad terakhir di tengah ketegangan geopolitik yang terus berlanjut.