Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok hingga 95 persen akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir.
Berdasarkan data dan laporan dari berbagai lembaga maritim, jumlah kapal yang melintasi jalur sempit sepanjang 33 kilometer tersebut merosot tajam dari lebih dari 100 kapal setiap harinya menjadi hanya tersisa sekitar 5 kapal saja.
"Itu mungkin pertama kalinya kita benar-benar melihat penyempitan besar pada titik hambatan," ujar Direktur Konsultasi dan Riset Gibson Shipbrokers Richard Matthews sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Rabu, 27 Agustus 2026.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMatthews menjelaskan bahwa Selat Hormuz memiliki karakteristik unik karena tidak ada jalur alternatif maritim lain yang dapat digunakan untuk menggantikan peran strategisnya dalam memasok sepertiga minyak mentah lintas laut dunia.
Lonjakan Biaya dan Perubahan Jalur Pelayaran Logistik Dunia
Dampak dari krisis ini langsung merembet ke rantai pasok global, menyebabkan ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk terpangkas drastis serta mendongkrak harga minyak dunia sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelum perang.
Negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk kini harus menghadapi lonjakan harga, waktu tunggu pengiriman yang lebih lama, serta keharusan mencari pemasok alternatif demi menjaga kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi.
Berdasarkan data UNCTAD, Eritrea dan Madagascar berada di posisi teratas sebagai negara yang paling bergantung dengan pasokan minyak dari Timur Tengah mencapai 90 persen, diikuti oleh Pakistan sebesar 78 persen, serta Jepang dan Kenya masing-masing sebesar 77 persen.
Penutupan jalur utama ini memaksa para operator kapal untuk mengubah rute pelayaran global menjauhi Teluk dan mengarahkannya menuju Laut Merah serta Asia Tenggara dengan Singapura dan Malaysia sebagai pusat transit baru.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, para pelaku industri pelayaran menilai bahwa kerentanan rantai pasok global saat ini berada di titik tertinggi menyusul maraknya konflik bersenjata yang melibatkan teknologi drone dan blokade militer.