Sebagaimana diwartakan oleh media Clarin, gelombang bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor dahsyat menerjang wilayah perbatasan antara Nepal dan Tibet. Peristiwa tragis tersebut meluluhlantakkan permukiman warga serta menyisakan duka mendalam bagi ratusan keluarga korban.
Berdasarkan laporan kepolisian setempat, jumlah korban tewas yang berhasil dievakuasi telah mencapai sedikitnya 157 orang. Selain itu, lebih dari 800 orang yang sebagian besar merupakan wisatawan asing dilaporkan masih belum ditemukan di tengah medan pencarian yang sangat sulit.
Menurut keterangan saksi mata bernama Suman Chalise, seorang profesor berusia 34 tahun di kawasan Nuwakot, kedahsyatan bencana tersebut sungguh di luar perkiraan manusia. "Saya melihat bagaimana air membawa delapan atau sembilan truk, bersama dengan rumah-rumah dan orang-orang, itu sungguh memilukan," ujarnya menceritakan detik-detik mencekam saat terjangan air bah menyapu bersih berbagai bangunan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePihak berwenang dan tim penyelamat gabungan terus dikerahkan secara maksimal untuk menyisir sisa-sisa reruntuhan dan timbunan lumpur tebal. Pemerintah Nepal mencatat puluhan warga dan wisatawan berhasil dievakuasi melalui jalur udara menggunakan helikopter militer maupun sipil dari titik-titik isolasi.
Sementara itu, para ahli menduga bencana banjir bandang ini dipicu oleh aktivitas seismik atau gempa bumi yang menyebabkan longsoran salju dan batuan besar di area pegunungan Himalaya. Longsor tersebut kemudian membendung aliran sungai dan menciptakan gelombang air bah yang sangat destruktif.