Berdasarkan laporan media La Vanguardia, para peneliti dari Laboratorio Jackson di Connecticut dan Universitas Duke di Carolina Utara mengungkapkan bahwa proses penuaan pada kulit manusia sangat bergantung pada perubahan ekosistem mikroorganisme yang hidup di permukaannya.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science tersebut mematahkan pandangan klasik yang selama ini menganggap penurunan kualitas kulit sebagai masalah struktural semata, seperti hilangnya elastisitas dan penipisan epidermis.
Menurut para peneliti, kulit tidak sekadar organ jaringan yang mengalami penuaan, melainkan sebuah ekosistem kompleks yang terdiri atas bakteri, jamur, virus, serta tungau yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal tubuh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Identifikasi fungsi dari mikroorganisme yang mempengaruhi proses ini membuka peluang besar untuk memodulasinya guna mendukung penuaan yang sehat di masa depan," ungkap Sasan Jalili selaku bioengineer dari Laboratorio Jackson.
Kendati demikian, para ahli memberikan peringatan keras terhadap maraknya produk komersial yang mengklaim dapat meremajakan kulit lewat klaim mikrobioma tanpa didukung oleh uji klinis dan bukti ilmiah yang valid serta teruji secara ketat.
Sebagaimana diberitakan, terapi eksperimental berbasis mikrobioma saat ini sebagian besar masih difokuskan untuk mengatasi penyakit kulit inflamasi seperti dermatitis atópica, alih-alih untuk tujuan estetika atau antipenuaan murni.
Para ilmuwan berharap riset lanjutan mengenai interaksi kompleks antara mikrobioma dan fungsi pertahanan kulit ini dapat segera menghasilkan standar terapi medis yang benar-benar efektif dan aman bagi masyarakat luas.