Duka mendalam menyelimuti misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah dua anggotanya tewas dalam sebuah serangan bersenjata. Sebagaimana diwartakan oleh media Belanda NOS, insiden berdarah tersebut terjadi ketika para pasukan perdamaian sedang melaksanakan tugas patroli rutin di wilayah negara bagian Jonglei, bagian timur Sudan Selatan.
Berdasarkan laporan resmi dari misi PBB di Sudan Selatan atau UNMISS, selain dua korban jiwa, peristiwa penyergapan tersebut juga mengakibatkan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka. Rincian korban luka meliputi tiga personel pasukan perdamaian, dua orang petugas kepolisian, serta dua orang pejabat sipil, di mana seluruh korban diketahui berasal dari negara Ethiopia.
Pihak PBB mencatat bahwa insiden tragis ini menambah daftar panjang korban jiwa di kalangan pasukan penjaga perdamaian sejak awal tahun ini. Tercatat sudah ada sembilan anggota pasukan PBB yang gugur akibat serangan kelompok militan, sementara serangan terbaru ini hingga kini belum ada pihak atau kelompok mana pun yang mengaku bertanggung jawab.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres langsung merespons insiden tersebut dengan melancarkan kecaman yang sangat keras. "Saya mengutuk keras serangan dan penyerbuan ini," ujar Guterres, seraya mendesak agar otoritas setempat segera melakukan investigasi mendalam guna menyeret para pelaku ke meja hijau.
Situasi keamanan di Sudan Selatan sendiri terus memburuk akibat konflik berkepanjangan antara pasukan pemerintah yang setia kepada Presiden Salva Kiir dan faksi militan yang berafiliasi dengan mantan wakil presiden Riek Machar. Perseteruan politik yang tajam antara kedua tokoh tersebut sempat memicu perang saudara besar yang merenggut ratusan ribu nyawa sebelum akhirnya tercapai kesepakatan damai rapuh pada tahun 2018 lalu.
Meski perjanjian damai telah diteken, implementasinya kerap menemui jalan buntu dan memicu ketegangan baru, terutama setelah penangkapan Riek Machar pada akhir tahun lalu atas dugaan keterlibatan dalam serangan fasilitas militer. Ekalasi konflik bersenjata pun kembali membara di berbagai wilayah, khususnya di negara bagian Jonglei yang kini menjadi lokasi tewasnya para penjaga perdamaian PBB.