Perjalanan hidup Sir Demis Hassabis sebagai arsitek utama kecerdasan buatan (AI) modern dikupas tuntas dalam buku biografi terbaru karya Sebastian Mallaby berjudul "The Infinity Machine: Demis Hassabis, DeepMind, and the Quest for Superintelligence" yang diterbitkan pada Maret 2026. Lahir dari keluarga pekerja multikultural di London utara dengan darah ibu asal Singapura-Tionghoa dan ayah Siprus-Yunani, Hassabis berkembang dari seorang anak prodigy catur menjadi pelopor video game, lulusan ilmu komputer Cambridge, hingga neurosaintis kognitif terkemuka.
"Saya pertama-tama adalah seorang ilmuwan. Tujuan saya adalah memahami alam," ujar Sir Demis Hassabis yang kini memegang peran strategis sebagai Chief Scientist Alphabet, Chairman Google DeepMind, CEO Isomorphic Labs, serta penasihat AI Pemerintah Inggris setelah menerima gelar kebangsawanan (knightly) pada Maret 2024 lalu.
Pendekatan ilmiah yang diusung Google DeepMind membedakannya secara tajam dari para kompetitor di industri teknologi global. Ketika perusahaan lain berlomba mengejar pengguna aktif harian demi pendanaan, Google DeepMind memilih fokus mengintegrasikan AI dengan sains murni seperti kedokteran dan pertanian lewat proyek-proyek monumental bernilai miliarder.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBuku tersebut turut mengulas babak penting ketika Google resmi mengakuisisi DeepMind pada akhir tahun 2013 setelah Hassabis meyakinkan para pendiri Google bahwa teknologi tersebut akan mengubah dunia. Melalui pendekatan deep reinforcement learning, Google DeepMind mencetak sejarah besar seperti mengalahkan juara dunia permainan Go lewat AlphaGo dan memetakan seluruh struktur protein dunia lewat AlphaFold yang mengantarkan mereka meraih penghargaan Nobel.
Tantangan Etika dan Masa Depan Superintelligence
Di tengah ketatnya persaingan global industri AI melawan OpenAI hingga kemunculan model efisien asal Tiongkok seperti DeepSeek R1, Google DeepMind di bawah kepemimpinan Hassabis terus membuktikan kapasitas teknisnya lewat inovasi berkelanjutan seperti model Gemini 3 dan Veo.
Perkembangan riset kecerdasan buatan tingkat lanjut yang bergerak sangat cepat menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai arah kendali teknologi masa depan bagi umat manusia. Buku biografi karya Mallaby secara terbuka menyoroti kekhawatiran terkait perlombaan pembangunan pusat data bernilai ratusan miliar dolar serta perang talenta sains yang mulai berjalan di luar kendali.
Sir Demis Hassabis sendiri secara konsisten menyuarakan pentingnya pengawasan ketat dan standar etika tinggi dalam pengembangan frontier AI agar teknologi transformatif ini tetap selaras dengan kepentingan keselamatan publik.
Meskipun dinamika politik Silicon Valley kerap mewarnai dinamika industri kecerdasan buatan, visi fundamental Hassabis untuk memecahkan batas-batas pengetahuan manusia melalui AI tetap menjadi mercusuar utama dalam revolusi teknologi global saat ini.
Upaya berkelanjutan yang dilakukan oleh tim Google DeepMind dalam menyeimbangkan kecepatan inovasi, akurasi data, dan aspek keselamatan membuktikan komitmen jangka panjang dalam membangun kecerdasan buatan yang bertanggung jawab.