Berdasarkan laporan The Independent, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menuai sorotan tajam setelah memilih untuk memaksimalkan rumah dinas resminya sebagai tempat bekerja demi efisiensi waktu.
Sanae Takaichi yang merupakan perdana menteri wanita pertama di Jepang mengungkapkan bahwa tinggal di rumah dinas bersejarah tersebut memudahkan mobilitasnya karena tanpa waktu perjalanan serta sigap menghadapi situasi darurat kapan pun diperlukan.
Sebagaimana diwartakan, Sanae Takaichi bahkan memperkuat fungsi kantor di dalam kediaman resminya agar bisa menggelar rapat secara daring maupun luring dengan para stafnya di luar jam kerja resmi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNamun, gaya bekerja jarak jauh ini justru memicu kritik luas di tengah masyarakat Jepang terkait isu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta kesetaraan gender di lingkungan kerja.
Terlebih lagi, Sanae Takaichi sempat mengungkapkan di media sosial X bahwa dirinya hanya tidur antara nol hingga tiga jam semalam akibat tingginya beban pekerjaan sekaligus beban domestik yang dipikulnya.
Selain itu, popularitas Sanae Takaichi dilaporkan merosot tajam akibat sejumlah kebijakan tidak populer yang didorongnya, termasuk penundaan langkah ekonomi mengatasi kenaikan harga barang.
Media setempat menyoroti bahwa Sanae Takaichi kerap menghindari sidang parlemen serta lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dinas pada akhir pekan dan malam hari dibandingkan berinteraksi langsung dengan politisi lain.
Alih-alih berkomunikasi langsung dengan media massa, Sanae Takaichi lebih memilih menyampaikan berbagai pandangan dan kebijakan politiknya melalui akun platform X miliknya.
Di sisi lain, rumah dinas resmi yang dibangun pada tahun 1929 tersebut dikenal memiliki sejarah kelam berupa dua percobaan kudeta berdarah pada tahun 1930-an serta mitos cerita hantu yang beredar di kalangan publik.
Kendati demikian, Sanae Takaichi mengaku tidak peduli dengan berbagai mitos menyeramkan tersebut dan justru mengaku lebih sering terkejut oleh kehadiran kecoak ketimbang penampakan makhluk halus. "Saya tidak pernah melihat hantu, tapi saya sering berteriak karena bertemu kecoak," ujarnya menggambarkan pengalamannya tinggal di bangunan bersejarah itu.