Di hadapan para calon jenderal Polri, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memaparkan konsep kepemimpinan berbasis neurosains atau neuroleadership dalam kegiatan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri Pendidikan Reguler ke-36 Tahun 2026 di Lembang, Bandung.
Berdasarkan laporan media, sebagai seorang pakar neurosains terkemuka, Taruna Ikrar mengajak para perwira tinggi masa depan untuk memahami cara kerja otak manusia secara mendalam sebagai fondasi utama dalam mengambil keputusan strategis dan mengendalikan emosi.
Mengutip pernyataan Taruna Ikrar dalam pemaparannya, seorang pemimpin di masa depan tidak boleh hanya mengandalkan kewenangan atau pangkat semata, melainkan harus mampu menguasai diri sendiri serta mengelola tekanan di tengah dinamika global.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tantangan zaman menuju visi Indonesia Emas 2045 yang diwarnai perkembangan kecerdasan buatan serta perubahan geopolitik menuntut institusi kepolisian memiliki model kepemimpinan yang adaptif.
Selain membahas anatomi kepemimpinan modern, Taruna Ikrar juga menyoroti pentingnya penguatan sinergi antara BPOM dan jajaran kepolisian dalam memberantas peredaran obat keras ilegal demi melindungi keselamatan masyarakat luas.
Sebagaimana diwartakan, kegiatan yang turut didampingi oleh sejumlah pejabat utama BPOM tersebut mempertegas komitmen kolaboratif antarlembaga dalam menghadirkan kepemimpinan berintegritas tinggi serta berbasis ilmu pengetahuan.