Upaya nyata dalam mendongkrak budaya literasi di Kabupaten Kudus terus digencarkan melalui berbagai program kreatif. Sebagaimana diwartakan, kegiatan bertajuk In House Training dengan fokus pelatihan menulis fiksi mini belum lama ini digelar di SMP 1 Jati, Kudus.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, kegiatan tersebut tidak hanya diikuti oleh para pendidik dari tuan rumah saja, melainkan juga melibatkan guru-guru dari berbagai SMP baik negeri maupun swasta di wilayah Kudus guna memperluas jangkauan gerakan literasi.
Bunda Literasi Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani Sam'ani Intakoris, menyampaikan bahwa program tersebut dihadirkan sebagai langkah strategis untuk memperkuat gerakan literasi dengan menjadikan para guru sebagai teladan utama bagi peserta didik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurutnya, kemampuan menulis yang baik tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan membaca yang kuat. Oleh karena itu, seorang tenaga pendidik wajib memiliki minat baca yang tinggi sebelum akhirnya mengajak para siswa untuk mencintai dunia literasi.
"Ketika menulis pasti harus membaca dulu. Minat baca guru harus menjadi teladan anak didiknya. Sebelum mengajak anak-anak, guru juga harus mempunyai minat baca yang patut diteladani," ungkap Endhah dalam keterangannya.
Ia juga menambahkan bahwa penguatan budaya membaca dan menulis perlu dilakukan secara kolektif dengan melibatkan berbagai elemen mulai dari lingkungan sekolah, perpustakaan, hingga taman bacaan masyarakat agar dampaknya semakin luas.
Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati, menegaskan bahwa peningkatan literasi merupakan agenda besar yang menuntut adanya kolaborasi lintas sektor yang kuat di berbagai lini pemerintahan.
Dikutip dari laporan media, pihaknya terus menggandeng Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, serta Organisasi Perangkat Daerah lainnya untuk bersama-sama mendongkrak Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat atau IPLM.
"Kita kolaborasi dengan Dinas Pendidikan, dengan Dispermades, kemudian dengan OPD yang lainnya untuk semua bergerak meningkatkan IPLM, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat," jelas Rahmah.
Ia menekankan bahwa kenaikan IPLM menjadi salah satu tolok ukur kinerja pemerintah dalam membudayakan literasi, yang salah satunya ditempuh melalui pengembangan dan pemerataan fasilitas perpustakaan di berbagai tingkatan.
Menurut Rahmah, setiap wilayah harus memiliki akses perpustakaan yang memadai, mulai dari perpustakaan umum, perpustakaan khusus, hingga perpustakaan sekolah dan desa yang aktif melayani kebutuhan literasi masyarakat.
Lebih lanjut, ia mendorong agar perpustakaan sekolah tidak hanya berfokus pada internal siswa, tetapi juga mampu merangkul masyarakat di sekitar sekolah untuk memanfaatkan koleksi fisik maupun digital secara maksimal.