Berdasarkan laporan media, nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada perdagangan awal pekan ini di tengah dinamika pasar keuangan global. Walau demikian, pergerakan mata uang Garuda diproyeksikan bakal bergerak konsolidatif dengan ruang penguatan yang cenderung terbatas terhadap dolar Amerika Serikat.
Sebagaimana diwartakan, analis Doo Financial Lukman Leong menilai bahwa potensi apresiasi rupiah tertahan oleh berbagai sentimen eksternal yang masih membayangi pasar. "Rupiah diperkirakan berkonsolidasi, dengan potensi menguat terbatas oleh pelemahan dolar AS, namun ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak yang masih tinggi menahan rupiah," ujar Lukman.
Lebih lanjut, pergerakan pasar keuangan global saat ini turut dicengkam oleh antisipasi pengumuman sanksi baru dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent terhadap Iran. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya secara terbuka melontarkan ancaman sanksi terberat dalam sejarah serta peringatan bagi negara-negara yang masih menjalin dagang dengan Teheran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenanggapi tekanan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya saat ini sedang menghadapi perang berskala penuh di berbagai sektor. "Kami sedang menghadapi perang ekonomi, militer, dan keamanan berskala penuh," ungkap Pezeshkian dalam pidatonya yang merespons ancaman sanksi terbaru dari Presiden AS Donald Trump.
Meski berada di bawah tekanan eksternal yang masif, pemerintah Iran menyatakan komitmen penuh untuk menjaga persatuan nasional serta melayani masyarakat. Di sisi lain, para pelaku pasar di tanah air tetap perlu mewaspadai perkembangan eskalasi geopolitik internasional yang dapat mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.