Generasi Z di Amerika Serikat kini memperlakukan kamar asrama kampus dengan standar estetika tinggi yang viral di media sosial. Berbeda dari era sebelumnya yang hanya mengandalkan kasur twin ekstra besar dan poster seadanya, mahasiswa baru saat ini menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merancang tata letak kamar asrama mereka agar tampil sempurna.
"Saya ingin dia merasa percaya diri dan memiliki segalanya," ujar Julie Beth Fox, pendiri Petal and Pine Dorm Design, mengenai putrinya yang kuliah di Mississippi State. Bersama rekannya Kari Cabale, Fox mendirikan layanan desain asrama setelah melihat tingginya antusiasme para ibu di Nashville yang ingin memberikan dekorasi terbaik bagi anak-anak mereka.
Tren kamar asrama estetik ini mulai mendominasi platform digital seperti TikTok, di mana video perombakan ruangan sering kali ditonton jutaan kali. Sebagian mahasiswa bahkan rela merogoh kocek dalam, dengan biaya dekorasi kustom oleh desainer profesional mencapai USD 20.000 atau setara dengan ratusan juta rupiah untuk satu kamar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati demikian, para desainer menegaskan bahwa anggaran besar bukanlah syarat mutlak. Sebagian besar klien tetap memanfaatkan platform belanja online seperti Amazon serta toko furnitur terjangkau untuk mewujudkan kamar impian mereka dengan konsultasi mulai dari USD 100.
Alasan Generasi Z Rela Rogoh Kocek Demi Kamar Asrama
Shannan Bower, seorang desainer interior asal Fort Worth, Texas, berpendapat bahwa kebiasaan menghabiskan banyak waktu di rumah selama pandemi membuat Generasi Z lebih menghargai kenyamanan lingkungan sekitar. Menurutnya, mahasiswa menginginkan ruang personal yang nyaman untuk beristirahat dan belajar setelah lelah beraktivitas di kampus.
Bagi para orang tua, proses mendesain kamar bersama anak juga menjadi momen transisi yang emosional sebelum sang buah hati merantau. Sentuhan dekorasi yang cozy dinilai mampu mengurangi kecemasan serta menumbuhkan rasa percaya diri bagi mahasiswa tahun pertama dalam menghadapi babak baru kehidupan akademis mereka.
Mahasiswa tahun kedua Florida State University, Kamryn Hall, mengungkapkan bahwa investasi pada estetika ruangan lebih berfokus pada ekspresi diri ketimbang sekadar tren media sosial. Ruangan dengan selimut berumbai merah muda dan lampu LED kustom memberikan identitas tersendiri di tengah lingkungan asrama yang bersifat komunal.
"Memiliki ruang asrama yang indah membantu saya merasa lebih seperti di rumah," kata Kamryn Hall saat membagikan perjalanan mendekorasi kamarnya kepada sesama mahasiswa.
Di sisi lain, pergeseran tren ini memunculkan perbandingan menarik dengan gaya hidup mahasiswa pada dekade sebelumnya. Kreator konten Melanie Ressa, yang kini berusia 35 tahun, mengenang masa kuliahnya ketika kamar asrama hanya dihiasi poster sederhana dan tanpa dekorasi mewah yang dikurasi secara khusus.
Meskipun ada perdebatan mengenai batas kewajaran biaya, para ahli menyarankan agar anggaran utama dialokasikan pada fungsi esensial. Pembelian kasur berkualitas untuk menunjang kualitas tidur serta penyediaan ruang belajar yang memadai dinilai jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kemewahan visual semata.