Berdasarkan laporan AFP, Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global hingga kini masih mengalami kelumpuhan total menyusul konflik berkepanjangan yang telah memasuki bulan keenam. Sebelum Iran menutup jalur pelayaran strategis tersebut sebagai respons atas serangan militer gabungan, sekitar seperlima dari pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia rutin melintasi perairan sempit ini setiap harinya.
Sebagaimana diwartakan oleh media setempat, analisis data dari lembaga pelacakan maritim Kpler menunjukkan bahwa rata-rata pelintasan kapal pengangkut komoditas merosot tajam dari 95 kapal per hari pada bulan Februari menjadi hanya sekitar 10 kapal saja setelah penutupan resmi pada awal Maret lalu. Meskipun sempat terjadi lonjakan sementara menyusul kesepakatan damai pada bulan Juni, situasi kembali memburuk pasca pecahnya kembali pertempuran pada Juli lalu.
Mengutip laporan media, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengungkapkan bahwa saat ini ada sekitar 500 kapal beserta 6,000 pelaut yang masih tertahan di kawasan Teluk di tengah ancaman zona bahaya dan ranjau laut. Upaya evakuasi yang sempat diinisiasi oleh badan PBB tersebut terpaksa ditangguhkan menyusul insiden serangan terhadap kapal, sementara korban jiwa dari kalangan pekerja pelabuhan dan pelaut dilaporkan terus berjatuhan selama enam bulan terakhir.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe