Sebagaimana diwartakan dalam laporan rakyatbengkulu.disway.id, perhelatan akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak sekadar menjadi ajang konsolidasi organisasi keagamaan terbesar di tanah air saja. Agenda strategis tersebut juga dipandang sebagai peluang emas untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif yang berpijak pada potensi santri dan pesantren di berbagai daerah.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya melihat adanya potensi luar biasa dari ekosistem pesantren. Menurutnya, basis massa NU yang sangat kuat dan tersebar luas di seluruh penjuru nusantara dapat menjadi modal sosial yang solid untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan berbasis kreativitas.
Lebih lanjut, Riefky menyatakan bahwa sektor ekonomi kreatif terbukti mampu menjadi motor penggerak baru bagi kesejahteraan masyarakat bawah. "Muktamar ke-35 menjadi upaya memperkuat kolaborasi pemerintah dan elemen masyarakat," kata Riefky dalam keterangannya yang dikutip dari laporan media.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain itu, ia menilai bahwa tema yang diusung dalam muktamar kali ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan pengembangan industri kreatif. Tema tersebut adalah "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa" yang mencakup semangat kemandirian umat.
Berdasarkan penjelasan tersebut, ekonomi kreatif di lingkungan santri tidak semata-mata berorientasi pada perolehan keuntungan material semata. Sektor ini juga berkaitan erat dengan pelestarian identitas budaya lokal, kreativitas tanpa batas, serta inovasi berkelanjutan dari masyarakat.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan kalangan pesantren, diharapkan kemandirian ekonomi umat dapat segera terwujud secara nyata. Hal ini sekaligus memperkuat posisi santri sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi kreatif nasional di masa depan.