Sebagaimana diwartakan oleh media The New Daily, angka inflasi Australia tercatat lebih tinggi dari perkiraan para pengamat meskipun melandai ke level terendah dalam delapan bulan terakhir.
Berdasarkan laporan Biro Statistik Australia, indeks harga konsumen naik 1 persen pada Juli, yang membuat tingkat inflasi tahunan turun menjadi 3,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meskipun laju inflasi melambat akibat penurunan harga listrik, angka tersebut ternyata masih berada di atas konsensus ekspektasi pasar yang sebelumnya memproyeksikan penurunan hingga 3,3 persen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKondisi ini membuat Reserve Bank of Australia berada dalam posisi siaga tinggi karena inflasi inti yang disesuaikan masih bertahan di level 3,6 persen.
Stephen Smith selaku partner di Deloitte Access Economics menilai hasil data inflasi tersebut sebagai situasi yang sangat rumit dan membingungkan akibat adanya intervensi kebijakan pemerintah.
Menurut Smith, intervensi berupa perubahan harga energi yang diatur pemerintah serta fluktuasi harga bahan bakar membuat tekanan harga yang sebenarnya di dalam perekonomian menjadi sulit dibaca secara jelas.
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa setiap tanda menguatnya risiko inflasi dapat mendorong bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Di sisi lain, sektor perumahan tercatat sebagai penyumbang terbesar kenaikan inflasi dengan lonjakan mencapai 5 persen, dipicu oleh tingginya biaya material bangunan serta upah tenaga kerja.
Sementara itu, Bendahara Negara Australia Jim Chalmers menyatakan bahwa penurunan inflasi secara berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir tetap merupakan hasil yang menjanjikan di tengah ketidakpastian global.