Ketika musim tanam tiba namun pasokan pupuk bersubsidi belum juga turun, para petani di Desa Saren, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, kerap dihadapkan pada pilihan sulit antara membeli pupuk nonsubsidi berharga mahal atau merelakan hasil panen menyusut.
Berdasarkan laporan media lokal, kondisi tersebut memicu kepedulian dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 86 Universitas Sebelas Maret (UNS) yang kemudian menggelar pelatihan pembuatan pupuk mandiri berbasis limbah pertanian.
Melalui program bertajuk Pengolahan dan Sosialisasi Ekonomi Kreatif Sekam Padi Zero Waste Farming, para mahasiswa memperkenalkan cara memanfaatkan tumpukan sekam padi sisa penggilingan yang selama ini sering terabaikan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSekitar 40 petani yang tergabung dalam kelompok tani Kebayanan 2 tampak antusias mengikuti pemaparan materi serta praktik langsung pencampuran bahan fermentasi di Balai Desa Saren.
Dalam praktiknya, para petani diajarkan cara mencampur sekam padi dengan larutan air, EM4 sebagai mikroorganisme pengurai, serta molase sebagai sumber nutrisi mikroorganisme dalam takaran tertentu.
Campuran bahan tersebut nantinya harus disimpan dalam wadah tertutup rapat selama kurang lebih dua minggu sebelum siap diaplikasikan ke lahan pertanian sebagai pupuk organik yang menyuburkan tanaman.
Selain untuk memenuhi kebutuhan lahan sendiri, antusiasme para petani juga muncul karena program ini membuka peluang baru untuk mengembangkan produk pupuk fermentasi sebagai komoditas UMKM bernilai ekonomis di Desa Saren.