Sebagaimana diwartakan dalam laporan media internasional, Hakim Mahkamah Agung Federal Brasil atau STF, Andre Mendonca, mengungkapkan sisi lain dari kursi kekuasaan tertinggi di bidang hukum yang diembannya. Dalam pernyataannya yang menarik perhatian publik, Mendonca menyebut bahwa posisi tersebut merepresentasikan titik maksimal kekuasaan manusia dari sudut pandang hukum.
Meski memegang salah satu jabatan paling berpengaruh di negara tersebut, Mendonca secara terbuka mengaku bahwa dua tahun pertamanya di pengadilan tinggi diwarnai dengan "banyak rasa tidak bahagia". Menurut laporan yang sama, ia menegaskan bahwa jabatan prestisius tersebut membawa beban, tanggung jawab, serta tekanan moral yang jauh lebih besar ketimbang sekadar hak istimewa atau kekuasaan mutlak.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mendonca ketika berbicara dalam Seminar Nasional Asosiasi Hakim Injili Nasional atau Anamel. Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya menjaga integritas moral dan tidak mendewasakan materi serta kekuasaan. "Jangan letakkan hati Anda pada kekuasaan, jangan letakkan hati Anda pada uang, karena Anda akan merasa frustrasi," ungkap Mendonca memperingatkan para hadirin.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMendonca sendiri ditunjuk sebagai hakim agung pada Desember 2021 oleh mantan Presiden Jair Bolsonaro, setelah sebelumnya mengemban amanah penting sebagai Jaksa Agung Federal serta Menteri Kehakiman dan Keamanan Publik. Pengangkatannya kala itu disambut hangat oleh berbagai kalangan, khususnya komunitas relasi keagamaan.
Selain membahas dinamika internal lembaga peradilan, laporan tersebut juga mencatat berbagai penanganan kasus besar yang dipegang oleh Mendonca di lingkungan Mahkamah Agung. Di tengah tekanan dan sorotan publik yang begitu masif, ia tetap berupaya menjalankan fungsi yudisial secara profesional di tengah dinamika hukum Brasil yang sarat kepentingan politik.