Teknologi kecerdasan buatan membuat proses melamar pekerjaan menjadi semakin cepat, namun pengalaman pencarian kerja justru terasa kian buruk bagi para kandidat di bursa tenaga kerja saat ini.
"Kami telah bergerak melampaui kelelahan pencarian kerja biasa menuju sinisme sistemik," ujar penasihat karier Harvard dan pengajar UC Berkeley Gorick Ng, seperti dikutip dari Axios pada Senin, 24 Agustus 2026.
Berdasarkan data perusahaan rekrutmen Ashby, para perekrut kini memproses sekitar 291 lamaran untuk setiap satu posisi rekrutmen yang berhasil diisi, meningkat signifikan dari sekitar 100 lamaran pada awal tahun 2021.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSurvei Greenhouse menunjukkan bahwa 46 persen kandidat merasa keyakinan mereka terhadap proses perekrutan telah menurun drastis, sementara sekitar 63 persen pelamar di Amerika Serikat mengaku pernah diwawancarai oleh sistem kecerdasan buatan.
Marak Ghost Jobs dan Dominasi AI dalam Rekrutmen
Fenomena lowongan kerja fiktif atau ghost jobs yang tidak benar-benar diisi kini mencakup sekitar 18 hingga 22 persen dari total lowongan yang dipasang dalam kuartal normal berdasarkan data internal Greenhouse.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat Indeed Scott Dobroski menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengisi posisi kosong saat ini hampir 25 persen lebih lama dibandingkan sebelum masa pandemi.
Filter resume berbasis kecerdasan buatan juga kerap menyaring aplikasi secara otomatis tanpa tersentuh tangan manusia, yang terkadang berujung pada gugatan diskriminasi akibat kurangnya transparansi.
"Bagaimana sebuah perusahaan tampil dalam proses perekrutan dapat menceritakan banyak hal tentang bagaimana perusahaan tersebut benar-benar beroperasi," ungkap Gorick Ng menambahkan.