Di tengah pesatnya era digital dan perkembangan kecerdasan buatan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar melayangkan pesan penting agar kemajuan teknologi tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Sebagaimana diwartakan, Kepala Kankemenag Aceh Besar H Saifuddin SE menegaskan bahwa teknologi harus dimanfaatkan untuk mempererat persaudaraan, bukan memicu kebencian.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, pesan tersebut disampaikan saat Saifuddin bertindak sebagai pembina upacara dalam peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pondok Pesantren Al-Manar, Aceh Besar, Senin, 17 Agustus 2026. Ia membacakan amanat dari Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA di hadapan para peserta upacara.
Pejabat yang akrab disapa Yahwa itu menekankan bahwa kecerdasan teknologi atau Artificial Intelligence harus selalu diimbangi dengan etika, akhlak, serta kearifan manusia. Teknologi boleh berkembang pesat, tetapi integritas dan nurani tidak boleh ikut tertinggal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"AI boleh saja semakin cerdas, akan tetapi manusia harus tetap bijaksana. Teknologi boleh semakin maju, tapi akhlak tidak boleh tertinggal," ujar Yahwa sebagaimana dikutip dari keterangannya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa Kementerian Agama terus berupaya mengawal dunia pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta demi membentuk generasi yang toleran dan berkarakter. Selain itu, program Ekoteologi juga digencarkan untuk mendorong kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.
Dalam kesempatan yang sama, pihak Kemenag turut memaparkan berbagai capaian penting, mulai dari penyaluran program bantuan pendidikan hingga peningkatan kompetensi guru secara signifikan. Di usia ke-81 kemerdekaan ini, seluruh jajaran pegawai diajak untuk memaknai perjuangan masa kini melalui pengabdian tulus serta penguasaan ilmu pengetahuan.
"Mari kita bekerja dengan kesungguhan, melayani dengan tulus, merawat kerukunan, menguasai teknologi tanpa kehilangan etika, serta jadikan agama sebagai sumber kedamaian, persatuan, dan kemajuan bangsa," pungkasnya.