OpenAI bersama sejumlah perusahaan teknologi besar dan raksasa industri menandatangani surat terbuka yang mendesak pelaku industri serta pemerintah untuk segera mengambil tindakan kolektif dalam mengamankan sistem kecerdasan buatan. Berdasarkan analisis Kabayan News, kelompok tersebut mengusulkan tiga prinsip utama pertahanan siber kolektif untuk menghadapi eskalasi ancaman digital yang kian kompleks.
Dalam laporan mingguan insiden keamanan siber global, OpenAI juga mengambil tindakan tegas dengan melarang sejumlah akun ChatGPT asal Rusia yang terdeteksi berafiliasi dengan jaringan disinformasi International Burke Institute. Jaringan tersebut memanfaatkan ChatGPT melalui VPN guna menghasilkan komentar palsu berbahasa Inggris untuk memengaruhi opini publik di berbagai platform media sosial.
Selain isu disinformasi kecerdasan buatan, lanskap keamanan siber global diwarnai oleh eksploitasi celah kerentanan kritis pada platform hosting Git, Gitea. Celah yang tercatat dengan nomor CVE-2026-60004 ini memungkinkan penyerang mengeksekusi perintah jarak jauh dan memasang muatan penambang kripto pada server rentan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeInsiden pelanggaran data turut melanda sektor transportasi udara setelah Manchester Airports Group mengonfirmasi pencurian data yang berdampak pada 8,7 juta penumpang. Data dicuri dari sistem pemesanan tempat parkir, lounge, jalur cepat, serta pendaftaran Wi-Fi bandara meliputi alamat email, nomor telepon, nomor registrasi kendaraan, dan kode pos.
Perusahaan keamanan siber Huntress turut melaporkan temuan lima pekerja jarak jauh asal Korea Utara yang menyusup ke berbagai organisasi global menggunakan identitas palsu sepanjang tahun ini. Sementara itu, kebocoran data di Spanyol mengekspos informasi operasional 568 petugas kepolisian Barcelona di tengah status siaga level 4 ancaman terorisme.