Penjualan kendaraan listrik atau EV secara global melonjak tajam sepanjang tahun 2026 menyusul disrupsi pasokan minyak di Timur Tengah dan guncangan harga bahan bakar kedua dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Berdasarkan laporan lembaga riset Wood Mackenzie, adopsi kendaraan listrik yang dipicu kenaikan harga energi ini diprediksi terus menjadi tren pasar global dan berpotensi melampaui ekspektasi awal.
Tingginya lonjakan harga bahan bakar membuat analis Wood Mackenzie merevisi skenario dasar mereka dan memperkirakan pangsa pasar EV akan melompat dari 4 persen dari total armada global saat ini menjadi 25 persen pada tahun 2040. Di sisi lain, International Energy Agency mencatat penjualan kendaraan listrik global pada 2026 diproyeksikan menembus angka 23 juta unit atau mencakup hampir 30 persen dari seluruh penjualan mobil di seluruh dunia.
Pertumbuhan penjualan tersebut terlihat nyata di berbagai kawasan sepanjang kuartal pertama 2026, di mana penjualan EV di Eropa melonjak hingga hampir 30 persen secara tahunan. Sementara itu, wilayah Asia Pasifik di luar China mencatatkan lonjakan sebesar 80 persen, dan Amerika Latin mengalami peningkatan penjualan hingga 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemulihan penjualan EV yang sangat tajam terjadi pada kuartal kedua dengan pertumbuhan mencapai 35 persen dibandingkan kuartal pertama tahun ini. "Krisis energi yang dipicu perang di Timur Tengah membawa volatilitas harga bahan bakar kembali menjadi sorotan utama," tulis laporan resmi IEA bertajuk "Electric Car Markets in a Time of Uncertainty".
Skenario Electric Shock dan Masa Depan Pasar Mobil
Konsultan energi Wood Mackenzie bahkan menyiapkan skenario terburuk yang disebut sebagai "electric shock", di mana adopsi kendaraan listrik global bisa berakselerasi hingga 50 persen di atas skenario dasar. "Jika seluruh kekuatan ini bergabung secara bersamaan, efek terhadap adopsi EV akan sangat dramatis," ujar Direktur Riset Transisi Energi Wood Mackenzie David Brown.
Skenario "electric shock" tersebut diperkirakan mampu menekan permintaan minyak mentah global hingga turun menjadi sekitar 99 juta barel per hari pada tahun 2040 mendatang. Penurunan permintaan bahan bakar transportasi darat ini juga berisiko memicu penutupan dini sekitar 40 kilang minyak di berbagai belahan dunia.
China diprediksi tetap memimpin pasar global dengan percepatan adopsi EV melalui penerapan kebijakan pembatasan konsumsi bensin serta insentif pajak pembelian penuh yang memangkas biaya kepemilikan total hingga 30 persen. Langkah strategis tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak penjualan tahunan China dari 8,9 juta unit pada 2025 menjadi 29,9 juta unit pada 2040.
Sebaliknya, Amerika Serikat menghadapi risiko tertinggal lebih jauh apabila tidak segera membangun rantai pasok baterai kompetitif serta dukungan kebijakan terarah untuk manufaktur domestik. Di sisi lain, lembaga BloombergNEF memperkirakan lebih dari separuh atau 52 persen dari seluruh kendaraan penumpang di dunia akan bertenaga listrik penuh pada tahun 2035.