Berdasarkan laporan dari media internasional, para buruh pabrik tekstil di pinggiran Delhi, India, diwajibkan mengenakan kamera kecil di kepala mereka selama jam kerja berlangsung. Awalnya, para pekerja mengira perangkat tersebut hanyalah bagian dari pengawasan pabrik biasa atau lelucon belaka, namun lambat laun hal tersebut memicu kekhawatiran mendalam.
Mengutip pemberitaan elDiario.es pada Agustus 2026, rekaman video berperspektif orang pertama atau yang disebut sebagai data egosentris ini ternyata dikumpulkan secara masif. Data tersebut digunakan untuk melatih kecerdasan buatan dan robot humanoid agar dapat meniru gerakan serta keterampilan fisik pekerja manusia di lini produksi pabrik.
India kini bertransformasi menjadi pusat utama perburuan data global bagi perusahaan teknologi raksasa berkat ketersediaan tenaga kerja yang besar dan beragam. Sejumlah perusahaan penyedia data memanfaatkan pabrik-pabrik lokal untuk merekam aktivitas fisik buruh jahit, perakit, hingga pekerja konstruksi tanpa memberikan kompensasi finansial yang adil kepada para buruh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSeorang buruh jahit anonim berinisial Lalita mengaku bahwa dirinya hanya menerima upah standar sekitar 200 dolar AS per bulan tanpa ada bayaran ekstra atas data berharga yang ia hasilkan. "Saya tidak tahu siapa yang akan membayar kami nanti ketika robot-robot benar-benar menggantikan posisi kami," ujarnya mengungkapkan keresahan para pekerja pabrik.
Selain ancaman kehilangan pekerjaan di masa depan, praktik perekaman ini juga menuai kritik tajam terkait masalah privasi dan pengawasan ketat di tempat kerja. Para peneliti perlindungan tenaga kerja menilai bahwa para buruh dimanfaatkan secara tidak transparan tanpa memahami bahwa gerak-gerik harian mereka dijual sebagai aset digital bernilai tinggi.