Kabar baik bagi jutaan pekerja domestik di Argentina. Komisi Pekerja Rumah Tangga atau Comisión de Trabajadoras de Casas Particulares baru saja mencapai kesepakatan krusial mengenai penyesuaian upah minimum di sektor tersebut. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan sedikit napas bagi sekitar 1,7 juta pekerja di seluruh negeri.
Berdasarkan laporan media Clarin, kenaikan upah ini telah dijadwalkan secara bertahap mulai dari Agustus hingga Desember 2026. Skema penyesuaian ini tidak hanya mencakup persentase kenaikan bulanan, tetapi juga menyertakan pembayaran tambahan non-remunerasi dalam beberapa bulan tertentu untuk kategori pekerja dengan jam kerja tertentu.
Untuk bulan Agustus, pekerja akan mendapatkan kenaikan sebesar 1,9 persen. Selain itu, pemerintah menetapkan tambahan uang tunai non-remunerasi sebesar 20.000 peso bagi mereka yang bekerja lebih dari 16 jam seminggu. Bagi pekerja dengan durasi 12 hingga 16 jam seminggu, diberikan tambahan 11.500 peso, sementara untuk di bawah 12 jam mendapatkan 8.000 peso.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMemasuki September, kenaikan upah ditetapkan sebesar 1,8 persen dengan tambahan integrasi 25 persen dari bonus non-remunerasi Agustus ke dalam gaji pokok. Pola ini berlanjut pada Oktober dengan kenaikan 1,7 persen plus 50 persen integrasi bonus, dan November sebesar 1,6 persen dengan tambahan 25 persen sisa bonus. Puncak tahun ini ditutup dengan kenaikan 1,6 persen pada Desember.
Meski ada kenaikan, para pakar ekonomi mencatat bahwa daya beli riil pekerja sangat bergantung pada tingkat inflasi yang terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Sebagaimana diberitakan, sektor pekerja rumah tangga di Argentina saat ini masih menghadapi tantangan besar, termasuk tingkat informalitas yang mencapai 78 persen, tertinggi dibandingkan sektor lainnya menurut data INDEC.
Catatan pahit lainnya, selama 32 bulan terakhir, upah di sektor ini tercatat mengalami akumulasi kenaikan sebesar 184,9 persen. Angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan laju inflasi hingga Juli 2026 yang mencapai 328,8 persen, yang artinya pekerja mengalami penurunan daya beli riil sekitar 33 persen.