Jose Maria Canlas Sison lahir di Cabugao, Ilocos Sur, Filipina pada tanggal 8 Februari 1939 dan wafat pada 16 Desember 2022 dalam pengasingan di Belanda. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh politik paling berpengaruh sekaligus kontroversial di Filipina modern akibat perannya memimpin gerakan kiri radikal. Melalui pemikiran ideologisnya yang memadukan Marxisme-Leninisme-Maoisme dengan sejarah lokal, ia mendirikan Partai Komunis Filipina pada tahun 1968. Perjalanan hidupnya diwarnai oleh masa-masa penahanan politik di bawah rezim Ferdinand Marcos hingga akhirnya menghabiskan sisa hidupnya di luar negeri.
Latar belakang keluarganya berasal dari kalangan elit tuan tanah terkemuka di wilayah Luzon Utara yang memiliki koneksi politik kuat sejak era kolonial Spanyol dan Amerika. Namun, jalur hidupnya justru berbalik arah ketika ia bersentuhan dengan pemikiran radikal dan realitas ketimpangan sosial selama masa pendidikannya di Manila. Pengalaman berorganisasi pada era 1960-an membentuk kesadaran politiknya untuk menentang imperialisme, kapitalisme birokrat, serta feodalisme di Filipina. Ia kemudian aktif menggalang kaum muda dan buruh melalui berbagai organisasi massa sebelum membentuk faksi komunis baru.
Tonggak penting dalam karier politiknya terjadi ketika ia memimpin gerakan rektifikasi besar yang memisahkan diri dari partai komunis lama yang pro-Moskow. Bersama para pengikutnya, ia mendirikan sayap militer berupa Tentara Rakyat Baru atau New People's Army untuk melancarkan perang gerilya di pedesaan. Akibat aktivitas politik tersebut, ia ditangkap oleh militer pada tahun 1977 dan mengalami masa penahanan panjang di sel isolasi. Setelah jatuhnya rezim Marcos melalui Revolusi Kekuatan Rakyat tahun 1986, ia dibebaskan dan sempat kembali mengajar sebelum akhirnya memilih tinggal di Eropa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKondisi terkini menunjukkan bahwa warisan politik Sison masih meninggalkan perdebatan tajam di kancah nasional maupun internasional hingga setelah kematiannya. Organisasi yang didirikannya tetap dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah Filipina, sementara para pendukungnya memandangnya sebagai seorang pejuang pembebasan nasional. Meskipun tinggal di Belanda selama puluhan tahun, ia terus berperan sebagai konsultan politik utama bagi Front Demokratik Nasional dalam negosiasi perdamaian.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Jose Maria Sison lahir dari pasangan Salustiano Sison dan Florentina Canlas Sison di tengah keluarga tuan tanah yang memiliki pengaruh besar di Ilocos Sur. Leluhurnya mencakup para pejabat kolonial terkemuka, tokoh revolusioner, hingga kepala daerah yang menduduki posisi penting dalam sejarah politik lokal. Sejak kecil, ia mendapatkan panggilan akrab Cheng dari keluarganya dan tumbuh dalam lingkungan yang memadukan pandangan tradisional serta sentimen nasionalis anti-imperialis dari sang ayah. Latar belakang istimewa ini memberikan akses pendidikan terbaik di berbagai institusi bergengsi di Manila.
Ia mengenyam pendidikan di sekolah umum pada masa awal sebelum melanjutkan studinya ke Ateneo de Manila University, Colegio de San Juan de Letran, dan Universitas Filipina. Di Universitas Filipina, ia aktif dalam kegiatan akademik hingga berhasil lulus dengan predikat kehormatan dalam bidang sastra Inggris pada tahun 1959. Setelah sempat mempelajari bahasa Indonesia di Indonesia, ia kembali ke tanah air dan berkarier sebagai seorang dosen universitas. Melalui profesinya sebagai pengajar sastra, ilmu politik, dan studi Rizal, ia mulai menanamkan kesadaran kritis kepada para mahasiswanya.
Titik balik dalam pembentukan ideologinya bermula dari interaksinya dengan para pekerja tani serta pemahaman masa kecil mengenai pemberontakan Hukbalahap di Luzon Tengah. Keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa dan pemuda pada awal tahun 1960-an mempertemukannya dengan aktivisme radikal yang menentang kemapanan politik. Pada tahun 1962, ia bergabung dengan Partai Komunis Filipina versi lama sebelum akhirnya mendirikan organisasi pemuda patriotik Kabataang Makabayan pada tahun 1964. Organisasi tersebut menjadi wadah pergerakan masif yang menentang Perang Vietnam dan kebijakan pemerintah.
Fondasi nilai dan prinsip perjuangan Sison berakar kuat pada adaptasi teori revolusioner internasional terhadap struktur kelas masyarakat agraris di Filipina. Ia meyakini bahwa perubahan sosial radikal hanya dapat dicapai melalui revolusi tahap nasional-demokratis sebelum melangkah ke tahap sosialisme. Prinsip inilah yang dituangkannya ke dalam manifestasi pemikiran teoretis yang menjadi panduan bagi seluruh kader pergerakan kiri yang dipimpinnya sepanjang hayat.
Karier Politik dan Kontribusi
Kontribusi utama Sison dalam kancah politik Filipina terletak pada keberhasilannya membangun kembali gerakan komunis yang terorganisir melalui pembentukan Partai Komunis Filipina pada tahun 1968. Melalui karya mani-festonya berjudul Philippine Society and Revolution yang diterbitkan dengan nama samaran Amado Guerrero, ia merumuskan analisis komprehensif mengenai masyarakat semi-feodal dan semi-kolonial. Analisis ini menjadi landasan strategis bagi perang gerilya kaum tani dan buruh di berbagai wilayah kepulauan Filipina.
Pengaruh pergerakannya menciptakan dampak masif terhadap dinamika sosial-politik serta stabilitas keamanan nasional Filipina selama berpuluh-puluh tahun. Jaringan organisasi bawah tanah serta sayap militer yang didirikannya tumbuh menjadi salah satu gerakan pemberontakan bersenjata paling bertahan lama di Asia Tenggara. Meskipun berada di pengasingan luar negeri sejak akhir tahun 1980-an, pengaruh ideologisnya tetap mendominasi faksi-faksi kiri radikal di dalam negeri.
Sepanjang perjalanan hidupnya, ia menerima sejumlah pengakuan di bidang sastra, termasuk penghargaan Southeast Asia WRITE Award untuk buku puisi karyanya berjudul Prison & Beyond yang ditulis saat ia ditahan di dalam penjara. Di sisi lain, ia juga menghadapi berbagai tantangan hukum internasional, termasuk penangkapan sempat di Utrecht pada tahun 2007 atas tuduhan keterlibatan pembunuhan sebelum akhirnya seluruh dakwaan tersebut dibatalkan oleh pengadilan Belanda pada tahun 2010 karena kurangnya bukti.
Pengaruh pemikiran Jose Maria Sison terhadap generasi mendatang tetap menjadi subjek kajian yang dipelajari secara luas dalam bidang ilmu politik dan sejarah pergerakan sosial. Warisan intelektualnya terus memicu perdebatan sengit antara pandangan yang mengecam kekerasan revolusioner dan pihak yang melihat perjuangannya sebagai respons atas ketimpangan struktural yang mengakar di masyarakat.