Mahasiswa Louisiana State University (LSU) menghadapi perbedaan kebijakan penggunaan kecerdasan buatan atau AI di setiap kelas seiring upaya staf pengajar mengontrol teknologi yang terus berkembang. Dosen dari berbagai disiplin ilmu menetapkan pedoman sendiri mengenai cara dan waktu mahasiswa boleh memanfaatkan teknologi tersebut dalam perkuliahan.
Keith Mills selaku asisten profesor ilmu komputer mengizinkan mahasiswanya menggunakan AI dalam mata kuliah sains komputer dan analisis data untuk membuat model statistik maupun kode pemrograman. Namun, Mills mewajibkan mahasiswa untuk menyunting dan menambahkan sentuhan manusia agar karya yang dihasilkan benar-benar menunjukkan pemahaman materi kuliah.
Di sisi lain, profesor ilmu komunikasi Roxanne Dill melarang keras penggunaan AI untuk penulisan konten di jurusannya karena dianggap sebagai plagiarisme yang dapat merugikan masa depan mahasiswa. Dill menegaskan esensi jurnalisme adalah manusia menulis tentang manusia, sehingga mahasiswa harus menguasai dasar penulisan secara mandiri tanpa bergantung pada mesin.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenanggapi beragamnya aturan di tiap kelas, administrasi LSU membentuk dewan AI yang dipimpin oleh Fellow Provost untuk AI Emily Elliott untuk menyusun pedoman yang komprehensif. Dewan tersebut melibatkan perwakilan senat fakultas, staf, dan mahasiswa guna memberikan panduan etika serta keamanan dalam pemanfaatan teknologi.
Dewan AI LSU Susun Kebijakan Baru Atasi Perbedaan Dosen
Dewan AI LSU mulai bekerja untuk mengatasi berbagai tantangan penggunaan kecerdasan buatan di lingkungan perguruan tinggi dengan melibatkan perwakilan dari berbagai departemen dan program pascasarjana. Pembentukan dewan ini bertujuan memimpin institusi pendidikan tinggi di Louisiana dalam memperkuat keamanan, menjaga etika, serta mendukung proses pembelajaran.
Emily Elliott menyatakan bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang sangat baik untuk memahami konsep rumit atau membuat alat belajar, namun tidak boleh menjadi pengganti pengetahuan utama. Elliott mengingatkan bahwa mahasiswa yang terlalu bergantung pada teknologi cenderung kesulitan dalam menghadapi ujian yang menguji pemahaman dasar mereka.
Sebagai langkah edukasi, staf pengajar LSU juga telah menyediakan kursus literasi AI gratis bagi seluruh komunitas kampus agar dapat menggunakan teknologi secara etis dan efektif. Kursus tersebut dirancang untuk membimbing mahasiswa dalam melindungi identitas digital sekaligus memaksimalkan fungsi AI sebagai sarana penunjang studi.
Para dosen sepakat bahwa teknologi AI akan terus menjadi bagian dari dunia pendidikan, sehingga komunikasi terbuka antara mahasiswa dan pengajar sangat diperlukan. Mahasiswa diimbau untuk selalu memeriksa silabus mata kuliah atau berkonsultasi langsung dengan dosen guna menghindari kesalahpahaman terkait aturan penggunaan AI.