Kabayan News Kabayan News
/home / teknologi / Anjloknya Nilai Jual Maserati, Tren...
TEKNOLOGI

Anjloknya Nilai Jual Maserati, Tren dan Risiko di Masa Depan

By Asep Firdaus 2 min read 24 Agustus 2026
Mobil mewah Maserati berwarna gelap terparkir di area pameran otomotif internasional

Mobil mewah Maserati berwarna gelap terparkir di area pameran otomotif internasional

Dunia otomotif global mencatat fenomena menarik ketika merek legendaris asal Italia, Maserati, terus bergulat dengan masalah anjloknya nilai jual kembali kendaraan mereka secara drastis. Berdasarkan data dari CarEdge yang dilansir pada Senin, 24 Agustus 2026, rata-rata mobil baru Maserati kehilangan hingga 71 persen dari nilai aslinya setelah lima tahun kepemilikan. Kondisi ini menempatkan pabrikan berikon Tridente tersebut sebagai salah satu merek kendaraan mewah dengan depresiasi terburuk di pasar sekunder.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kabayan55, kemerosotan ini tidak hanya terjadi pada model lama, tetapi juga menghantam lini kendaraan kelas atas mereka dalam kurun waktu singkat. Model seperti Quattroporte V8 Trofeo mencatat penurunan nilai hingga 68 persen, Ghibli Ultima merosot 69 persen, dan Levante V8 Trofeo kehilangan 72 persen pada tanda 36 bulan. Angka tersebut mencerminkan jurang yang sangat kontemporer jika dibandingkan dengan kompetitor sekelas seperti Porsche 911 yang hanya mengalami depresiasi sekitar 9,3 persen dalam periode lima tahun.

Dalam pengamatannya, para analis industri otomotif menilai bahwa masalah utama bersumber dari biaya pemeliharaan yang berada di tingkat kendaraan eksotis serta persepsi publik terhadap keandalan mesin. Situasi ini diperparah oleh kebijakan diler di masa lalu yang kerap melakukan pemotongan harga secara agresif untuk menghabiskan stok. Langkah tersebut secara tidak langsung merusak harga pasaran sebelum unit-unit baru benar-benar meninggalkan lantai diler resmi.

Penting untuk digarisbawahi bahwa penurunan nilai residu ini berjalan seiring dengan merosotnya angka penjualan global secara masif. Catatan pengiriman pabrikan menunjukkan penurunan dari sekitar 49.000 unit pada tahun 2017 menjadi hanya 11.127 unit pada tahun 2025. Penghentian sejumlah model penting seperti sedan Quattroporte dan Ghibli serta SUV Levante tanpa adanya suksesor yang memadai turut mempersempit ruang gerak penetrasi pasar mereka.

Tantangan Elektrifikasi dan Prospek Pemulihan Bisnis

Merujuk pada data pasar terbaru, upaya peralihan strategis menuju kendaraan listrik penuh atau EV melalui lini Folgore belum sepenuhnya membuahkan hasil optimal. Kalangan pembeli mobil mewah kelas atas dilaporkan masih menunjukkan keengganan beralih ke varian listrik murni. Mereka tampaknya masih mendambakan sensasi mekanis dan deru mesin konvensional berkonfigurasi silinder banyak yang menjadi ciri khas historis merek tersebut.

Sementara itu, pasar utama di kawasan Asia, terutama Tiongkok, sempat menghadapi tekanan berat akibat kelesuan permintaan yang direspons diler dengan pemotongan harga. Meskipun induk perusahaan Stellantis telah menghentikan praktik diskon masif tersebut untuk menyelamatkan marwah merek, langkah pemulihan penjualan masih memerlukan waktu panjang. Manajemen pusat kini dituntut merumuskan ulang strategi aliansi teknologi guna menekan biaya riset tanpa mengorbankan eksklusivitas produk.

Perlu dicatat pula bahwa pergantian kepemimpinan di tingkat eksekutif membawa angin baru bagi arah kebijakan korporasi jangka panjang. Komitmen untuk menghadirkan kembali model sedan mewah performa tinggi sebagai suksesor spiritual terus digodok oleh para insinyur pabrikan. Langkah ini diyakini sebagai prasyarat fundamental untuk mengembalikan kepercayaan basis konsumen loyal yang merindukan kemewahan sedan klasik Italia.

Situasi ini mempertegas bahwa perjalanan Maserati ke depan akan sangat bergantung pada ketepatan eksekusi strategi produk dan perbaikan kualitas layanan purnajual. Keputusan strategis yang diambil Stellantis dalam beberapa kuartal mendatang akan menjadi penentu krusial apakah merek bersejarah ini mampu bangkit atau justru semakin tenggelam dalam pusaran kompetisi global.

Topics
maserati stellantis resale value industri otomotif mobil mewah pasar otomotif depresiasi kendaraan
Jurnalis Ekonomi & Bisnis

Asep Firdaus adalah jurnalis yang mengkhususkan diri dalam bidang ekonomi dan bisnis. Ia memiliki pemahaman yang baik tentang dinamika pasar, kebijakan ekonomi, dan perkembangan industri, serta mampu menyajikannya dengan bahasa yang jelas dan mudah dicerna.