Ancaman mematikan mengintai warga hilir gletser di kawasan pegunungan dunia akibat perubahan iklim yang memicu bencana banjir bandang dan longsor es dahsyat di perbatasan Nepal-China pekan ini. Tinggal di bawah bayang-bayang pegunungan es selalu menyimpan risiko, tetapi peristiwa terbaru menunjukkan bahwa kehidupan jutaan penduduk di sekitar wilayah tersebut kini menjadi jauh lebih tidak dapat diprediksi.
Bencana bermula ketika sepotong besar gletser dengan lebar mencapai 2.000 kaki runtuh dari Gunung Langtang Lirung di wilayah utara Nepal, disertai dengan tanah longsor besar berdasarkan analisis satelit. Runtuhnya es tersebut mengirimkan campuran mematikan berupa es, air, batu, sedimen, dan batu sebesar mobil yang meluncur turun sejauh 7.000 kaki dengan getaran sangat kuat hingga sempat disangka sebagai gempa bumi.
Derasnya arus material yang digambarkan sebagai beton cair tersebut menyapu ngarai-ngarai sempit, menghancurkan rumah, bangunan, pembangkit listrik, jembatan, hingga jalan raya dalam waktu sangat singkat. Ratusan jiwa dilaporkan tewas dan ratusan lainnya masih hilang akibat terjangan gelombang banjir yang turun dari pegunungan dengan kecepatan tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePeristiwa ferositas tinggi ini merupakan salah satu contoh nyata dari peringatan para ilmuwan mengenai peningkatan frekuensi bencana seiring pemanasan planet akibat emisi bahan bakar fosil. Berdasarkan riset ICIMOD, tingkat pencairan es dari gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya telah berlipat ganda sejak tahun 2000 dan diperkirakan separuh dari lebih 200.000 gletser gunung di dunia akan lenyap pada akhir abad ini.
Peringatan Dini dan Tantangan Pemantauan Gletser
Sistem peringatan dini menjadi kunci penyelamatan nyawa warga di hilir, meskipun tantangan geografis pegunungan membuat waktu antara pemicu bencana dan dampaknya sangat singkat. Sejumlah ahli memperkirakan gelombang banjir di perbatasan Nepal-China tersebut meluncur sejauh 14 mil pertama dengan kecepatan mencapai 120 mil per jam.
Pemantauan terhadap ribuan gletser di Nepal menjadi tantangan yang sangat ekstrem karena jumlahnya yang mencapai sekitar 3.000 gletser dengan kondisi medan yang sulit dijangkau secara manual. Namun, para ilmuwan menaruh harapan besar pada teknologi sistem satelit baru yang dinilai mampu menjadi pengubah permainan bagi keselamatan negara-negara rentan.
Ancaman runtuhnya gletser dan pencairan permafrost tidak hanya terjadi di Nepal, melainkan menjadi masalah global yang menghantui kawasan pegunungan tinggi lain mulai dari Pegunungan Alpen di Eropa hingga jajaran Andes. Kasus runtuhnya gletser di desa Blatten di Swiss tahun lalu yang mengubur wilayah tersebut membuktikan bahwa stabilitas lereng gunung telah terganggu secara masif.
Pemerintah dan para ahli terus mengkaji langkah mitigasi komprehensif guna melindungi jutaan penduduk yang bermukim di zona rawan bencana di bawah pegunungan es dunia. Kehadiran teknologi pemantauan mutakhir diharapkan mampu mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa lebih besar di masa mendatang seiring terus meningkatnya suhu global.