Jack in the Box sebagai restoran cepat saji populer mengumumkan rencana penutupan 150 hingga 200 restoran yang mulai berjalan sejak April 2025 melalui program restrukturisasi.
CFO Jack in the Box Dawn Cooper menyampaikan bahwa perusahaan baru menutup 40 restoran pada tahun ini dan memperkirakan tambahan 10 hingga 20 gerai tutup pada kuartal keempat.
Proses penutupan gerai tersebut berjalan lebih lambat dari perkiraan awal karena perusahaan masih terikat kontrak sewa jangka panjang yang harus tetap dibayarkan meski lokasi usaha sudah tutup.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerusahaan kini telah menyewa firma pihak ketiga guna mempercepat proses pelepasan sewa gedung agar tingkat penutupan gerai dapat meningkat pada periode mendatang.
Tantangan Citra Merek di Era Modern
Berdasarkan laporan keuangan, perusahaan juga masih mencatatkan penurunan penjualan di gerai yang sama selama empat kuartal berturut-turut sejak program pemulihan diluncurkan.
Jack in the Box menghadapi tantangan persepsi publik karena terlalu lekat dengan citra makanan cepat saji malam hari yang sarat akan kalori.
CEO RTMNexus Dominick Miserandino menilai bahwa perusahaan sulit melepaskan diri dari stigma sebagai tempat makan pencari kepuasan instan bagi konsumen.
Konsumen masa kini dinilai lebih memilih makanan berkualitas tinggi serta kaya kandungan protein tinggi saat berkunjung ke jalur drive-thru pada malam hari.
Perusahaan disarankan untuk menghadirkan varian menu protein tinggi yang lebih premium guna mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah tren kesehatan saat ini.