Sebagaimana diwartakan dalam laporan media, gelombang ketidakpastian ekonomi yang ditandai oleh melemahnya nilai tukar, badai PHK, hingga tingginya inflasi kini membawa dampak serius bagi kelas menengah di Indonesia. Berdasarkan penjelasan dari Perhimpunan Bank Nasional atau Perbanas, fenomena yang disebut "makan tabungan" terjadi ketika masyarakat terpaksa mengandalkan simpanan masa lalu untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari karena kemampuan menabung yang semakin tergerus.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh Andjas, seorang pekerja swasta di Jakarta. Mengutip laporan Liputan6.com, dirinya mengakui terpaksa merogoh tabungannya yang cukup besar demi menutupi kekurangan anggaran transportasi kantor menjelang akhir bulan. Tidak hanya itu, kenaikan harga bahan pokok membuatnya harus memutar otak dengan menekan pengeluaran, termasuk memilih membeli makanan matang yang dinilai lebih efisien dibandingkan memasak sendiri.
Kendati masih berupaya menyisihkan dana darurat, Andjas mengaku cemas dengan situasi finansial ke depan. Ia khawatir pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan akan membuatnya terjerumus ke dalam lingkaran utang. "Bakal lebih besar pasak daripada tiang, gaji atau penghasilan gak naik tapi biaya hidup harian naik signifikan," ujarnya sebagaimana dikutip dari laporan media tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKekhawatiran serupa turut dirasakan oleh Desi, seorang pekerja swasta yang harus membiayai kebutuhan sekolah kedua anaknya di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok. Menurut pengakuannya, uang tabungan keluarga kerap terpakai untuk keperluan mendadak seperti biaya pendidikan hingga kesehatan keluarga. Prinsip hidup untuk menghindari utang dan kartu kredit membuat Desi dan keluarganya harus ekstra ketat mengelola anggaran agar tabungan tidak ludes dan berujung pada ancaman makan utang.