Proses resistensi kemoterapi platinum pada pasien kanker paru dan ovarium baru-baru ini berhasil diungkap oleh tim ilmuwan dari University of Cambridge. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Aging ini menunjukkan bahwa pengobatan kemoterapi platinum dapat memicu sel kanker memasuki kondisi dorman atau senesens.
Berdasarkan pengamatan dari analisis Kabayan News, sel senesens tersebut tidak lagi membelah diri, melainkan melepaskan sinyal kimiawi berupa molekul TGFβ. Molekul ini mendorong sel kanker di sekitarnya untuk bertahan hidup, tumbuh, dan menjadi kebal terhadap pengobatan lanjutan.
Kemoterapi berbasis platinum seperti cisplatin dan carboplatin selama ini menjadi lini pengobatan utama untuk non-small cell lung cancer dan high-grade serous ovarian cancer. Meskipun efektif pada tahap awal, sel kanker kerap beradaptasi hingga memicu kekambuhan penyakit.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePenelitian yang melibatkan laboratorium Dr Estela Gonzalez-Gualda, Dr Marika Reinius, serta kolaborasi bersama Prof Robert Rintoul dari Royal Papworth Hospital ini menggunakan model tikus dan sampel tumor pasien. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien dengan tingkat senesens tinggi pascakemoterapi memiliki prognosis klinis lebih buruk.
Blokade sinyal TGFβ atau eliminasi sel senesens menggunakan obat senolitik dinilai berpotensi mengurangi pertumbuhan tumor. Kombinasi terapi ini diyakini mampu menekan risiko kekambuhan kanker, meski masih memerlukan uji klinis lanjutan.