Kabupaten Balangan adalah salah satu daerah otonom yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan dengan wilayah seluas 1.828,51 kilometer persegi. Berdasarkan data semester pertama 2025, jumlah penduduk di wilayah yang beribu kota di Paringin ini tercatat sebanyak 139.836 jiwa dengan tingkat kepadatan 76 jiwa per kilometer persegi.
Secara administratif, wilayah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabalong di sebelah utara, serta Kabupaten Hulu Sungai Tengah di sebelah selatan. Posisi geografis tersebut menjadikan daerah ini memiliki peran strategis karena dilalui oleh jalur lintas trans Kalimantan yang menghubungkan antarprovinsi di Pulau Borneo.
Berdasarkan struktur pemerintahannya, daerah ini dipimpin oleh Bupati Abdul Hadi bersama Wakil Bupati Akhmad Fauzi yang mengelola 8 kecamatan, 3 kelurahan, serta 154 desa. Sektor legislatif daerah ini juga didukung oleh keberadaan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang terdiri dari berbagai partai politik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePotensi perekonomian wilayah ini didukung oleh sektor pertanian tanaman pangan, perikanan darat, serta kekayaan sumber daya alam pertambangan. Berbagai komoditas seperti padi, ikan patin, hingga hasil tambang menjadi penopang aktivitas ekonomi masyarakat setempat sehari-hari.
Sejarah Pembentukan dan Moto Pembangunan
Kabupaten Balangan resmi terbentuk sebagai daerah otonom baru berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan di Provinsi Kalimantan Selatan. Peresmian wilayah tersebut dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri saat itu, Hari Sabarno, pada tanggal 8 April 2003.
Moto pembangunan daerah ini adalah "Sanggam" yang merupakan akronim dari "Sanggup Bagawi Gasan Masyarakat". Istilah dalam bahasa Banjar tersebut mencerminkan kesanggupan dalam melaksanakan pembangunan yang didasari oleh keikhlasan untuk melayani kepentingan masyarakat luas.
Jejak historis wilayah ini juga tercatat dalam catatan masa lalu ketika kawasan tersebut menjadi bagian dari jalur perdagangan dan kekuasaan kerajaan-kerajaan nusantara. Perjuangan rakyat setempat dalam mempertahankan kedaulatan juga diwarnai oleh peristiwa bersejarah Perang Banjar pada abad ke-19 silam.
Kini, daerah dengan indeks pembangunan manusia yang berada di kategori tinggi ini terus mengembangkan potensi pariwisata alam dan budaya. Destinasi seperti Gunung Hauk dengan ketinggian 1.020 meter di atas permukaan laut menjadi salah satu daya tarik utama bagi para pengunjung.