Krisis migrasi yang melanda wilayah Enclave Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, telah membuka kedok perpecahan di antara negara-negara anggota Uni Eropa.
Sebagaimana diwartakan oleh media internasional, peristiwa ini mendorong sebagian besar negara Eropa untuk mengambil langkah tegas ke arah kanan dalam kebijakan imigrasi.
Kebijakan tersebut berdampak langsung pada salah satu pencapaian terbesar Uni Eropa yang paling dibanggakan warganya, yaitu ruang Schengen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeRuang Schengen selama empat dekade terakhir telah memastikan kebebasan pergerakan bagi sekitar 450 juta warga dan arus barang di 29 negara.
Kendati aturan menetapkan bahwa kontrol perbatasan internal bersifat sementara dan luar biasa, Komisi Eropa dinilai pasif dalam menghadapi tindakan negara anggota.
Davide Colombi, seorang pakar migrasi dari lembaga pemikir CEPS di Brussel, menyatakan bahwa negara-negara anggota kerap memanfaatkan kelambanan komisi tersebut.
Jerman menjadi salah satu negara yang memperpanjang kontrol perbatasan secara beruntun akibat tekanan politik domestik terhadap partai-partai anti-imigran.
Meskipun Brussel telah mendesak pencabutan kontrol perbatasan seiring berlakunya Pakta Suaka dan Migrasi, krisis Ceuta justru mengancam efektivitas kesepakatan tersebut.
Para analis dan politisi menilai krisis di Ceuta bukan sekadar insiden biasa, melainkan preseden berbahaya yang dimanfaatkan demi kepentingan politik domestik menjelang tahun pemilu.
Keputusan Italia yang secara sepihak menangguhkan ruang Schengen terhadap Spanyol dikecam oleh berbagai kalangan sebagai pelanggaran aturan hukum Uni Eropa.
Sandro Gozi, seorang anggota Parlemen Eropa, menyebut tindakan tersebut sebagai perubahan kualitatif yang berbahaya tanpa adanya justifikasi keamanan yang nyata.
Sementara itu, Alberto Alemanno, profesor hukum Uni Eropa, mengkritik keras sikap diam Komisi Eropa selaku penjaga traktat yang dinilai membiarkan preseden buruk ini.
Respons politik Spanyol yang memberlakukan kontrol timbal balik terhadap Italia pun dinilai memperkeruh situasi dan merusak fondasi hukum integrasi Eropa.
Sejumlah politisi progresif turut menyayangkan sikap para pemimpin seperti Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen yang dinilai mengadopsi narasi sayap kanan terkait isu migrasi.
Para pengamat menyimpulkan bahwa instrumentalisasi krisis Ceuta berisiko memperlemah ruang kebebasan bergerak dan menguntungkan kelompok-kelompok politik garis keras di Eropa.